Opini >> Rio Batin Laksana
PTV – Pringsewu | Dalam komunikasi sering menjadi salah satu barometer untuk menganalisa kemampuan ataupun wawasan seseorang, tutur kata dan bahasa memang bisa menjadi topeng bagi oknum birokrasi yang menyimpan hasrat yang terkadang merugikan. Dalam konteks ini, bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai sarana untuk menyembunyikan niat sebenarnya.
Sebab kepiawaian seseorang dalam memainkan peran nya, untuk mengecoh audiens atau lawan bicara demi meraih tujuan yang Ia kehendaki, kerap bersembunyi di balik bungkus yang ia anggap pasti.
Seperti Fakta Birokrasi di Indonesia, baik Pusat, Wilayah, Daerah sampai ke tingkat yang paling dasar, Rukun Tetangga (RT) diKelurahan. Jika anda tekankan dua jari jemari Jempol ke smartphone yang dimiliki melalui aplikasi pintar yang hampir bisa menjawab semua keingin Tahuan kita (Google) nampak jelas platform tersebut menunjukkan tulisan permasalahan Birokrasi di indonesia.
Organisasi yang terlalu gemuk, peraturan perundang-undangan yang tidak harmonis, kewenangan yang tumpang tindih hingga fakta Korupsi dan Kolusi yang terjadi dimana-mana.
Itu semua sudah menjadi kepiawaian oknumnya dalam memainkan peranan nya masing-masing.
Kesadaran tanpa batas namun sulit diimplementasikan dalam kebiasaan, karena disadari atau tidak tetapi menarik jika di interpretasi kan!! ungkapan kata yang dikutip dari tayangan Kompas tv pada, Kamis 12/12/24, yang bersumber dari perkataan Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia, dalam pidato politiknya pada saat menggelar Puncak Perayaan HUT ke-60 Partai Golkar di Sentul, Bogor Jawa Barat.
Dalam pandangannya sebagai mantan aktivis yang ikut mempelopori Reformasi muncul pertanyaan yang mengglitik di hatinya.
“apakah demokrasi yang seperti ini yang kita inginkan?,” kata Ketumbar Golkar yang juga menjabat sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Indonesia itu.
Pertanyaan ini menggambarkan bagaimana bahasa dan tutur kata dapat digunakan untuk mempengaruhi opini publik dan menyembunyikan kepentingan pribadi.
Karena dalam Al-Qur’an juga terdapat ayat-ayat yang membahas tentang pentingnya tutur kata dan bahasa seperti QS Al-Ahzab 70-71 yang berbunyi,
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوۡلُوۡا قَوۡلًا سَدِيۡدًا ۙ ٧٠
Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar,
يُّصۡلِحۡ لَـكُمۡ اَعۡمَالَـكُمۡ وَيَغۡفِرۡ لَـكُمۡ ذُنُوۡبَكُمۡؕ وَمَنۡ يُّطِعِ اللّٰهَ وَرَسُوۡلَهٗ فَقَدۡ فَازَ فَوۡزًا عَظِيۡمًا ٧١
niscaya Allah akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia menang dengan kemenangan yang agung, (QS. Al-Ahzab 70-71).
Untuk menghindari penyalahgunaan bahasa dan tutur kata, kita perlu meningkatkan kesadaran dan kritis terhadap informasi yang diterima, selain itu, penting juga untuk memahami konteks dan niat di balik tutur kata dan bahasa yang digunakan.
(Pringsewu, 06 Januari 2025)